Buat Sehat Sampah Bukan Masalah

Buat Sehat Sampah Bukan Masalah *

Oleh:Rani Haerani

Semua yang berasal dari Barat dianggap serba lebih, terutama dalam bidang teknologi. Budaya mereka yang masuk ke Indonesia memang harus difilter, supaya tidak ditelan mentah-mentah. Walaupun begitu kita tak bisa menutup mata, ada sesuatu yang pantas kita tiru. Tentu meniru dengan cerdas, bukan tanpa batas.

Seorang WNI yang berbelanja di Jerman terkejut ketika ia harus memberi uang ekstra ketika membayar di kasir. Uang ekstra tersebut digunakan untuk kantong belanjaan yang terbuat dari plastik. WNI ini bersikeras menolak membayar dengan persangkaan, toko layak menyediakan kantong plastik itu. Si penjaga kasir tak memaksa, karena yang rugi ialah si WNI yang tidak membawa kantong sendiri. Akhirnya WNI itu mengalah, ia pun membeli kantong plastik itu agar ia bisa membawa pulang belanjaannya.

Kasus ini bukan lelucon. Memang benar, di Jerman orang-orang yang pergi ke supermarket selalu membawa kantong kain. Ini disebabkan oleh peraturan pemerintah yang mengharuskan pengurangan penggunaan plastik sebagai alat pembungkus atau kemasan. Oleh karena itu plastik menjadi mahal dengan harapan akan sedikit orang yang menggunakannya. Selain karena memang orang Jerman sangat menyadari dan peduli terhadap kelestarian lingkungan, pemerintah negara federal ini meregulasikan pengelolaan sampah dengan serius. Mulai dari penyortiran di lingkungan rumah tangga, juga di lingkungan umum. Maka tidak heran jika di sana kita menemui bak sampah yang sangat besar dengan tiga lubang yang memiliki tanda yang berbeda-beda.

Sebetulnya mudah jika metode seperti ini diterapkan di Bandung, kota yang pernah mendapat penghargaan Adipura. Sampah yang berantakan di berbagai sudut kota selain merusak keindahan juga dapat menyebabkan polusi udara, mengganggu kesehatan dan tak lupa-menyebabkan banjir. Sadar atau pun tidak, ketidaktertiban penduduk dalam membuang sampah telah berperan dalam bencana banjir di Bandung Selatan. Karena sebelah utara Bandung merupakan dataran tinggi dan bagian selatannya dataran rendah. Otomatis ini pun membuat saluran air tak lancar dan tercemar.

Solusi dapat terlahir dari berbagai lapisan. Pertama, lapisan keluarga. Kedua, lapisan masyarakat formal dan non formal. Ketiga, lapisan pemerintah. Dari lapisan keluarga kita dapat mulai dengan penyadaran diri akan pentingnya kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, dampak negatifnya bila sampah dibiarkan saja. Harus ada pembiasaan sejak masa kanak-kanak. Sedangkan di lingkungan masyarakat non-formal yaitu penyadaran antar tetangga. Kadang-kadang orang dalam lingkungan masyarakat formal seperti kantoran pun tidak ’tahu diri’ sampah dibuang sembarangan saja, bukan karena si pembuang tidak sadar bisa jadi karena tidak disediakan tempat sampah. Kemudian pemerintah (seharusnya) berperan sebagai komandan untuk melakukan segala hal yang mengarah kepada perbaikan pengelolaan sampah. Bila dijabarkan, maka langkah kongkrit yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

Pertama, gunakan alat pembungkus atau kemasan dari bahan ramah lingkungan, contohnya kertas dan kayu.

Kedua, kurangi penggunaan plastik secara berlebihan. Tidak ada salahnya memberlakukan aturan seperti yang terjadi di Jerman. Kemasan yang memakai plastik menjadi lebih mahal daripada yang dapat didaurulang.

Ketiga, budayakan kerja bakti per RT dan RW. Selain bergotong-royong membersihkan lingkungan juga dapat mempererat silturahmi.

Keempat, wajibkan sistem pemisahan sampah di rumah tangga. Misalnya dengan penyeragaman supaya memudahkan kerja pemulung dan para pejuang di medan persampahan. Yaitu, sampah plastik dimasukkan ke dalam keresek warna merah, semua sampah organik dimasukan ke dalam warna biru, dan sampah elektronik yang berbahaya menggunakan keresek warna hitam, terakhir sampah anorganik ditandai dengan keresek warna putih. Mengapa harus menggunakan empat tempat yang berbeda? Karena sampah plastik begitu khusus, ia bisa didaurulang sehingga harus dipisahkan sejak dini.

Kelima, berlakukan aturan formal khusus tentang sampah beserta sanksinya.

Keenam, sediakan tempat sampah di berbagai sudut kota Bandung yang efektif dan efisien, tidak mahal namun dapat menunjang sistem sortir.

Ketujuh, agar tidak terjadi penumpukan yang dahsyat seperti di Leuwi Gajah dan untuk mencegah pencemaran udara dan tanah yang berlebihan juga demi kenyamanan warga yang tinggal di sekitar, sebaiknya tempat pembuangan akhir dipecah menjadi beberapa wilayah kecil. Jadi tidak dipusatkan di satu tempat.

Kedelapan, ciptakan atau beli mesin penghancur sampah yang tidak mencemari udara.

Kesembilan, ciptakan wadah khusus bagi para penganggur yang mau mengolah kembali sampah yang bisa didaurulang.

Kesepuluh, sejahterakan para petugas kebersihan (pengelola sampah).

Kesebelas, jangan pernah mengekspor apalagi mengimpor sampah.

Terakhir, namun tidak kalah penting dengan poin sebelumnya, jangan mengorupsi uang dari iuran sampah.

Jika semua tahapan ini sudah dapat terlaksana, insyaAllah masalah sampah di Bandung akan dapat teratasi. Tentu dengan kerjasama antara 3 lapisan tadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s