Andai Zakat Ada Di Sini

Bukan hanya satu keluarga yang hancur berantakan karena orangtua berpisah, tetapi banyak. Salah satu penyebab perpisahan adalah perselingkuhan. Saya belum pernah mengadakan penelitian, tetapi mungkin di lingkungan sekitar Anda pernah ada gosip adanya perselingkuhan di dalam sebuah keluarga, dan gosip tersebut ternyata benar.

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa hubungan perselingkuhan dengan zakat? Akhir-akhir ini ada kejadian yang sangat memilukan sekaligus memalukan. Saya yakin ini bukan perselingkuhan yang pertama kali terjadi dengan alas an ekonomi. Seorang ibu tiga anak berani menjalin hubungan dengan lelaki yang bukan suaminya karena sang suami tidak bekerja tetap alias jarang berpenghasilan. Kabarnya sang istri telah bosan dengan segala keruwetan ekonomi rumahtangganya. Maka ia pun menghalalkan cara yang nista. Sang suami marah saat memergoki istrinya tengah berduaan dengan pria lain. Lalu ia mengadukan perbuatan istrinya tersebut kepada pihak keluarga sang istri dan juga warga yang berwenang. Hampir saja si pelaku digiring ke pihak berwajib, jika tidak dicegah oleh pihak keluarga.

Cukup demikian saya gambarkan fenomena yang semakin hari semakin marak dan merusak tatanan keluarga Indonesia.

Bidang ekonomilah yang ingin saya soroti di sini. Ekonomi kerapkali menjadi kambing hitam dari hampir semua kejahatan.
Mengapa ada orang miskin? Mengapa semakin banyak orang miskin di negeri ini, padahal kekayaan alam kita banyak? Mengapa masih terus saja orang berkeluhkesah mengenai ekonomi sementara ada lembaga-lembaga yang menyediakan dana untuk orang fakir? Ke mana zakat – hak fakir miskin tersebut – yang selama ini dikumpulkan? Apakah zakat yang terkumpul tidak menutupi jumlah orang miskin di negara ini? Ya dan tidak.

Faktor pelemparan kesalahan kepada ekonomi adalah:

1. Belum banyak umat Islam yang melek zakat. Kebanyakan kaum muslim di negeri ini hanya melaksanakan ibadah zakat setahun sekali, yaitu pada saat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Padahal jenis zakat itu banyak dan salah satu yang terpenting adalah zakat maal, yaitu zakat harta.
2. Zakat yang terkumpul tidak terdistribusi dengan baik.
3. Zakat yang terkumpul diberikan untuk membiayai sesuatu yang langsung habis.
4. Kurangnya perencanaan dalam penyaluran zakat.
5. Pendataan mustahiq kurang maksimal dan kurang dipantau.
6. Kurangnya himbauan dari lembaga keagamaan seperti MUI kepada masyarakat mengenai hukum zakat dan manfaat membayar zakat.
Lalu, bagaimanakah seharusnya? Pihak yang paling bertanggungjawab dalam hal ini tentulah pemerintah dan pemerintah merupakan penggerak utama. Jika pemerintah memiliki keinginan untuk menggalakkan zakat, maka secara tidak langsung program zakat pun akan membantu pemerintah sendiri dalam memberantas kemiskinan di negeri ini.

Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rumah Zakat dan beberapa lembaga zakat lain, pemanfaatan dana zakat akan lebih baik jika direncanakan dengan matang. Daripada masyarakat terjerat riba, misalnya, akan lebih baik jika dana zakat diberikan kepada penerima zakat bukan berupa barang untuk dikonsumsi, melainkan berupa modal usaha, sehingga nantinya mereka tidak bergantung lagi kepada zakat. Justru bisa jadi mereka berubah menjadi pemberi zakat.

Akan tetapi pada pelaksanaannya sangat rumit dan diperlukan kepercayaan tentunya. Oleh karena itu, perlu adanya tim yang membimbing dan mengawasi aktivitas ekonomi penerima zakat tersebut. Keuntungannya penerima zakat tidak perlu mengembalikan dana kepada pemberi zakat. Lain halnya jika mereka meminjam modal usaha kepada bank dan rentenir, selain harus mengembalikan mereka harus menambah dan tentu berdosa besar. Lagipula, mana ada bank yang memberikan modal kepada seseorang yang tidak punya jaminan (misalnya).

Satu langkah untuk menyederhanakan solusi ini adalah dengan memulainya dari bawah. Seandainya ada lembaga zakat di tingkat pemerintahan terbawah, maka kemungkinan besar manfaat zakat akan lebih terasa dan merata. Selain itu proses pembinaan dan pengawasan pun akan lebih terkendali. Pengawasan di sini berfungsi untuk membantu penerima zakat benar-benar menggunakan dana zakat yang ia terima untuk kelangsungan masa depannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s