Si ‘Kotak Ajaib’

Semua orang dari yang tua hingga yang masih batita mengenal kotak ajaib satu ini. Televisi memang telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Bahkan bagi sebagian orang, sehari tanpa menonton televisi rasanya hambar dan ada yang kurang. Sebagai salah satu media massa yang paling populer, televisi memang menyuguhkan banyak sajian yang informatif sekaligus rekreatif.

Program-program di televisi dirancang sedemikian rupa hingga bisa memenuhi kebutuhan para pemirsanya. Televisi juga disebut-sebut sebagai media massa yang paling banyak diminati karena keunggulan yang tidak dimiliki media massa lainnya. Televisi dengan format audiovisual selain bisa memuaskan mata juga bisa memuaskan telinga Anda. Mayoritas penduduk, apalagi yang lahir setelah era-80an, memulai kebiasaan menonton televisi sejak usia dini.

Bahkan ada yang sejak bayi belajar mengenali gambar bergerak yang disiarkan televisi. Banyaknya warna dan atraktifnya program di televisi membuat banyak anak-anak enggan pergi dari hadapan kotak ajaib ini. Biasanya seoarang anak menghabiskan waktu lebih dari 3 jam per hari, apalagi bagi mereka yang belum sekolah. Bisa saja mereka menonton lebih dari 4 jam. Bagaimana tidak? Sejak mereka bangun tidur, mereka antri di depan televisi untuk menonton kartun, setelah itu biasanya mereka mengikuti ibunya yang menonton gosip di siang hari.

Sore hari, mereka kembali menonton tayangan anak-anak.. Lalu pada malam sebelum mereka tidur, kembali disibukkan dengan aktivitas menonton bersama keluarga. Rutinitas ini tentu berulang dan kerapkali terbawa hingga mereka dewasa. Yang berubah hanya pilihan acaranya. Televisi, sebagai sebuah media massa, sebenarnya memiliki fungsi edukatif. Fungsi edukatif disini berarti televisi harus mampu menelurkan program-program yang selain bersifat informatif juga bisa mendidik para pemirsanya. Apalagi pemirsa yang masih berusia di bawah umur. Harus diakui bersama-sama bahwa di Indonesia tidak banyak program televisi yang mendidik.

Hanya beberapa yang dianggap dapat memajukan inteligensia anak. Beberapa program tersebut antara lain program animasi yang membuat anak-anak balita mengenal benda dan angka, selain itu ada juga program anak-anak yang dapat memperluas pengetahuan tentang budaya dan alam sekitar. Acara-acara ini tentu menarik, karena selain dapat menghibur juga dapat mendidik penontonnya, khususnya anak-anak.. Televisi memang memiliki efek yang kuat bagi para pemirsanya.

Selain dapat mempengaruhi pandangan pemirsa, televisi juga dapat membuat para pemirsanya untuk mengikuti adegan-adegan yang ditayangkan televisi.Anda tentu ingat kasus “smackdown” yang menggegerkan dunia pendidikan dasar. Banyak anak-anak yang rata-rata berumur di bawah sepuluh tahun ikut-ikutan bermain fisik ala smackdown. Bukan hanya cedera atau patah tulang, tapi permainan ini juga menelan nyawa.

Dari sini, tentu kita dapat mengakui bahwa efek televisi memang sebesar dan sekuat itu. Mari kita bayangkan jika televisi menayangkan program televisi alias TV Show dengan konsep yang menyenangkan tapi juga mendidik anak-anak. Tentu efek yang dihasilkan pun membawa ke arah positif. Anda yang lahir sebelum tahun 90-an mungkin masih mengingat program-program pendidikan yang disiarkan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) di awal-awal masa siaran.

Patut diakui, program tersebut memang mendidik dan berbobot. Bahkan kehadirannya banyak ditunggu para orang tua dan anak yang merasa kesulitan atas mata pelajaran yang bersangkutan. Namun seiring waktu program yang penuh nilai edukasi ini mulai kehilangan penontonnya.

Lambat laun, program seperti ini pun menghilang dan terganti oleh program sinetron kacangan. Lantas bagaimana caranya agar program-program edukatif dapat diproduksi dan meraih rating yang tinggi? Tentu saja jawabannya terletak pada pengemasan program tersebut. Program yang penuh bobot pendidikan namun dengan pembawaan yang ringan dan renyah seperti film pendek, acara kuis, serial atau bahkan TV Show yang dikemas dalam bentuk lain tentu akan ditunggu pemirsa. Para penonton juga akan bertambah pengetahuannya dan dapat meminimalisir dampak buruk televisi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s