Ketika (bahasa) Sunda Mulai Terlupa

Miris rasanya ketika bahasa Ibu sudah mulai terlupa. Perlahan-lahan bahasa yang biasanya digunakan sehari-hari tergeser dengan bahasa asing atau bahasa gaul yang dianggap lebih popular dan bisa menaikkan gengsi. Bahasa daerah kemudian dipandang sebelah mata. Ada rasa malu jika harus menyapa dengan bahasa daerah, apalagi jika dilakukan di tempat umum. Maka tak heran jika bahasa daerah perlahan-lahan mulai kehilangan penuturnya dan lantas menghilang.

Bahasa Sunda adalah salah satu bahasa yang penuturnya kian berkurang. Apalagi penutur berusia muda. Lambat laun bisa jadi basa sunda akan punah karena eksistensi sebuah bahasa tergantung pada penuturnya. Perhatikan saja di seantero ranah priangan, adakah generasi muda yang dengan bangga berbahasa Sunda lemes di setiap kesempatan?? Mungkin ada, tapi tak banyak. Yang lebih gampang ditemukan di masyarakat justru sekumpulan orang yang berbahasa Sunda kasar. Apalagi jika sedang marah. Tak jarang koleksi kebun binatang keluar disertai sumpah serapah dalam bahasa Sunda. Hal ini tentu patut disesalkan.

Para pemerhati budaya dan bahasa Sunda bukannya diam berpangku tangan. Banyak yang sudah mereka lakukan, dari sumbang pikiran ke media massa hingga membuat komunitas maya untuk orang Sunda sepeti kusnet dan ngariung.com. Bahkan dalam salah satu situs tersebut ada juga forum untuk mempelajari dan mendalami bahasa Sunda. Tapi tetap saja masih kurang peminat. Apalagi jika dibandingkan dengan jumlah total masyarakat Sunda.

Sejauh pengamatan penulis ada beberapa penyebab kenapa bahasa Sunda mulai kehilangan penutur. Penyebab pertama adalah undak-usuk bahasa Sunda yang rumit membuat anak muda merasa takut dan serba salah ketika ingin berbicara bahasa Sunda. Apalagi ketika harus berbicara dengan yang lebih tua. Ada kesalahan kata sekali saja bisa kena damprat karena dianggap tak sopan.

Penyebab kedua adalah masalah kebiasaan. Hampir setiap sekolah di Indonesia, khususnya di sekitar tanah Sunda menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia, bahkan di beberapa kelas atau beberapa sekolah, bahasa asing seperti bahasa Inggris juga menjadi bahasa pengantar dan digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kebiasaan berbahasa di sekolah ini kemudian dibawa keluar sekolah. Sehingga generasi muda memang tercetak menggunakan bahasa Indonesia pada setiap kesempatan.

Apabila pada waktu kecil si anak lebih sering menggunakan bahasa Sunda karena itulah bahasa yang digunakan ayah-ibunya, hal ini bisa saja berubah ketika si anak masuk sekolah. Untuk lebih memahami bahasa Indonesia yang bobot nilainya besar (terbukti kalau nilai merah maka si Anak tidak bisa naik kelas), ayah ibunya pun kemudian menggunakan bahasa Indonesia di rumah. Hal ini lantas berlanjut hingga si anak besar.

Belum lagi tayangan televisi dan terpaan media massa lain yang minim berbahasa daerah. Ini menimbulkan generasi muda makin melupakan bahasa aslinya sendiri. Begitu pun di media massa lain seperti media cetak atau radio. Jarang yang berbahasa daerah. Mungkin ada, tapi jumlahnya terbatas daripada media cetak atau siaran radio yang memakai bahasa Indonesia.

Penyebab ketiga adalah rasa gengsi. Para generasi muda jarang berbicara bahasa daerah atau bahasa Sunda karena merasa malu dan merasa tidak keren. Apalagi jika sedang berkumpul dengan rekan sebaya. Bahasa Sunda dianggap sebagai bahasa kelas dua. Mereka lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia slank yang dianggap gaul dengan dialek betawi atau bahasa asing agar tampak lebih modern.

Hal ini tentu saja ironis. Sudah saatnya generasi muda bangga akan bahasa daerahnya sendiri. Lantas bagaimana caranya? Cukuplah dengan membiasakan berbicara bahasa Sunda. Jangan takut salah dengan undak-usuk basa, minta maaf saja pada orang tua yang menanggap kurang sopan dan katakan kita sudah belajar.

Untuk membuat fasih, ada baiknya terus latihan, ikuti komunitas urang Sunda, baik di dunia maya dan dunia nyata. Dengan terus berdiskusi dan berinteraksi dengan bahasa Sunda tentu kemampuan kita juga akan meningkat.

Cag ah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s