Guru, Tentara Pendidikan Yang Berbaris (tak) Rapi


Dalam sebuah peperangan, tentara berada di lini paling depan dengan mengemban amanah yang berbeda demi keselamatan bangsa dan negara dari serangan musuh baik dari udara, darat maupun air. Walaupun namanya sama, tentara, akan tetapi di medan juang masing-masing memegang peranan yang berbeda-beda. Ada yang berperan sebagai komandan, yang mengatur strategi yang mana yang harus dijalankan saat berhadapan dengan musuh. Ada yang perannya sebagai pemegang bazoka. Ada yang jadi pengintai. Ada penembak jitu yang bersembunyi di atas pohon dan tempat-tempat rahasia lainnya. Ada dokter yang bertugas mengurus tentara yang terluka. Ada penerjemah, yang berguna saat melakukan komunikasi dengan musuh (jika berbeda bahasa). Ada pasukan berkuda dan juga pemanah.

Jika satu saja tidak bisa berfungsi, maka pasukan akan mudah dikalahkan. Bagaimana jika dalam peperangan itu seorang penembak jitu diperintahkan keluar dari pos persembunyiannya untuk mengobati luka rekan-rekannya? Apa yang terjadi jika seorang yang harusnya menangani pasien, diperintahkan untuk mengintai juga, padahal itu bukan keahliannya? Tentu akan kacau pasukan itu.

Sebagaimana sejarah telah mencatat, ketika pasukan pemanah tidak ada di posnya (walaupun alasannya karena takut kehabisan ghanimah), pasukan Rasulullah saw berhasil ditaklukkan oleh pasukan Khalid bin Walid (saat masih kafir) di bukit Uhud. Tentara Allah yang terlatih sedemikian rupa itu kocar-kacir gara-gara satu fungsi tidak berjalan dengan baik.

Coba kita tarik waktu ke belakang beberapa tahun, ketika para tentara itu masih duduk di bangku pendidikan dasar di sebuah ruang kotak, menyaksikan guru ABC di depan kelas memberikan pelajaran kepada mereka. Kebetulan pada jam itu waktunya belajar matematika. Sekolah mempercayakan pelajaran tersebut kepada guru ABC. Sebelum memulai pelajaran, sang guru memperkenalkan dirinya dan menyinggung sedikit latar belakangnya. Tunggu! Ia bilang, ia lulusan Pendidikan Bahasa Indonesia.

Dua jam kemudian, giliran para murid belajar IPS. Masya Allah, kenapa yang masuk guru ABC lagi? Apakah tidak salah?

Tidak. Alias benar. Fenomena ini terjadi. Satu orang guru mengajarkan apa yang tidak dikuasainya. Guru matematika mengajar bahasa, guru bahasa mengajar geografi, guru geografi mengajar agama, guru agama mengajar olahraga, guru olahraga mengajar fisika. Fenomena yang tidak luar biasa, alias biasa.

Mohon maaf, bukankah Rasulullah Muhammad saw, panutan kita itu, pernah mengatakan bahwa setiap urusan harus diberikan kepada ahlinya? Jangan berikan panah kepada ahli bazoka. jangan berikan stetoskop kepada penerjemah (kecuali memang penerjemah tersebut seorang dokter).

Guru adalah tentara. Guru adalah tentara pendidikan yang tugasnya sangat jelas, mengajarkan suatu bidang, menjadikan anak didiknya cerdas dan menguasai bidang yang diajarkannya. Jika gurunya tidak menguasai bidang yang diajarkan, maka murid hanya mendapatkan pendidikan ala kadarnya.

Fenomena ini saya alami ketika melaksanakan PPL, Program Pengalaman Lapangan sebagai guru bahasa. Memang bukan saya yang diminta untuk mengajar bidang yang berbeda dari keahlian (alhamdulillah bukan), akan tetapi teman-teman saya yang sudah menjadi guru yang mengalami hal itu.

Masih untung jika guru bahasa Inggris diminta mengajar bahasa Indonesia atau sebaliknya, masih dekat. Tapi, banyak juga yang sebenarnya guru IPS, harus mengajar IPA, dst, dst.

Alasannya, kurang tenaga kerja.

Heran ya, padahal pengangguran (bertitel S.Pd) di negeri ini sangat banyak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s